Setelah terungkap ada konflik antara perkebunan dan masyarakat di Mesuji yang sampai menyebabkan terjadinya pembunuhan sadis, beberapa hari yang lalu menyusul berita tentang pembubaran paksa yang dilakukan aparat terhadap masyarakat yang memblokir sebuah pelabuhan di Bima, juga karena masalah pengelolaan tanah; kali ini pertambaangan emas.
Pagi ini kita mengikuti pebincangan di Metro TV, dengan seorang nara sumber budayawan Sobari dan sorang lagi yang saya lupa namanya, membicarakan masalah kekerasan dan konflik yang akhir-akhir ini semakin marak di negeri kita, Menurut pak Sobari, antar individu hampir tidak ada konflik. Masyarakat aman-aman saja. Konflik terjadi antar kelompok. Antar kelompok masyarakat petani atau agama atau mahasiswa, dan kelompok aparat.
Salah satu sebab terjadinya konflik adalah keadilan sosial. Selain itu disinggung juga ketiakpercayaan pada negara atau pemerintah.
Dari sini saya mengambil dua-tiga kesimpulan untuk bersikap dangan sikap praktikal dan nuansa agama.
1. Jangan masuk kelompok apapun, dan jangan menganjurkan orang untuk berkelompok. Tetaplah sebagai individual sejati.
2. Ketidakadaan keadilan sosial disikapi dengan sabar dan menerima perbedaan rezeki yang ditetapkan Tuhan.
3. Tentang negara, kita sudah lama menyimpulan bahwa seburuk-buruknya keadaan, tidak adanya kekuasaan negara dan pemerintah jauh lebih buruk lagi. Lihat saja parahnya keadaan di Somalia sekarang, dan keadaan yang mengkhawatirkan di beberapa negara seperti Pakistan, Syria dan lain-lain.